Langsung ke konten utama

GANGGUAN BERBAHASA GAGAP


ANALISIS GANGGUAN GAGAP
LISNAWATI
NIM A1D117025

LATAR BELAKANG
            Pada keseharian kita semua tidak terlepas oleh bahasa, dari semenjak kecil kita sudah sangat terbiasa untuk berbahasa. Bahasa adalah salah satu karunia yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’alla yang hanya diberikan kepada manusia, tidak satupun makhluk Allah dibumi yang memilki kemampuan berbicara selain manusia. Bahasa digunakan manusia untuk saling berkomunikasi sebagai makhluk hidup dalam berbudaya dan bermasyarakat. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan bahasa untuk berinteraksi diri, dan menampung hasil kebudayaan.
            “Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam hal ini tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata, simbol, lambang, gambar, atau lukisan” (Yusuf dan Sugandhi 2014: 62).
            Psikolinguistik sebagai bidang ilmu antardisiplin antara psikologi dan linguistik memandang bahasa sebagai alat komunikasi yang berasal dari hasil kerja otak melalui hasil pemerolehan dan pembelajaran bahasa. Hasil kajian psikolinguistik banyak dimanfaatkan dalam memahami pemerolehan bahasa pertama maupun dalam pembelajaran bahsa kedua, termasuk di dalamnya permasalahan atau gangguan-gangguan yang terjadi pada hal-hal yang berkaitan dengan bahasa maupun berbahasa.
”Gagap merupakan suatu kondisi dimana pembicara mengalami kekacauan saat berbicara karena tersendat-sendat, mendadak berhenti, mengulang-ulang suku kata pertama hingga penderita berhasil berbicara hingga selesai. Penderita gagap ini sering kali tidak berhasil mengucapkan suku kata awal, dengan susah payah hanya mampu mengucapkan konsonan atau vokal awalnya saja. Lalu, ia memilih kata lain dan berhasil menyelesaikan kalimat tersebut meskipun dengan susah payah juga” (Chaer 2009:153).
Cahyono (dalam Nurjaya, 2013) menyatakan bahwa gagap atau stuttering merupakan salah satu bentuk kelainan berbicara yang ditandai dengan tersendatnya pengucapan kata-kata. Gagap terjadi ketika sebagian kata terasa lenyap, penutur mengetahui kata itu namun tidak dapat menghasilkannya.
Jadi, gagap merupakan suatu kondisi dimana si penderita mengalami gangguan berbicara dengan indikasi tersendatnya pengucapan kata-kata atau rangkaian kalimat. Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide untuk mengeluarkan kata-kata, pengulangan beberapa suku kata, kesulitan mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf tertentu, hingga kegagalan dalam mengeluarkan kata-kata.
Berdasarkan tipenya, gagap dapat dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama, gagap perkembangan. Gagap perkembangan biasa terjadi pada anak-anak usia 2-4 tahun dan remaja yang sedang memasuki masa pubertas. Kondisi gagap pada periode usia 2 sampai 4 tahun merupakan keadaan yang masih wajar terjadi karena hanya sebagian dari proses perkembangan bicara anak. Gagap ini muncul karena kontrol emosi penderita yang masih relatif rendah serta antusiasme anak untuk mengemukakan ide-idenya belum disertai dengan kematangan alat bicaranya. Kedua, gagap sementara atau gagap ringan. Gagap sementara ini biasanya dialami oleh anak-anak usia 6 sampai 8 tahun. Umumnya gagap jenis ini disebabkan oleh faktor psikologis. Ketiga, gagap menetap. Gagap menetap ini terjadi pada anak usia 3 sampai 8 tahun. Biasanya gagap ini disebabkan oleh faktor kelainan fisiologis alat bicara dan akan terus berlangsung.
Gagap atau tidaknya seseorang anak sudah bisa dideteksi sejak fase true speech (bicara benar) di usia 18 bulan. Kegagapan ini akan tampak jelas saat kanak-kanak berusia 4 sampai 5 tahun. Pada usia 4 sampai 5 tahun ini seharusnya perkembangan bahasa anak sudah baik, pemahamannya sudah bagus, pembentukan kalimat, bahasa ekspresif, kelancaran bicaranya juga sudah bagus, dan sosialisasi anak juga sudah luas.
Penyandang gagap adalah seseorang yang mengalami gangguan pada kemampuan motoriknya. Gerakan-gerakan penyandang gagap sulit untuk dikendalikan. Sekecil apapun gerakan yang muncul, menimbulkan efek pada performa mereka.
ANALISIS
Dalam jurnal penelitian sebelumnya yang dibahas oleh Asri Darmayanti Saragih (2018) penelitian tersebut membahas mengenai bahasa anak yang mengalami gangguan kelancaran berbicara (gagap), penelitian ini melibatkan tiga orang anak yang mengalami gangguan kelancaran berbicara (gagap) dengan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk bahasa anak yang mengalami gangguan kelancaran berbicara (gagap). Penelitian ini ditujukkan kepada anak yang mengalami kondisi gagap. Asri Darmayanti Saragih menyimpulkan bahwa gagap adalah gangguan kelancaran berbicara yang terjadi akibat dari perasaan kekhawatiran/kecemasan yang sangat tinggi saat hendak berbicara dengan lawan bicaranya, sehingga orang tersebut merasa kesulitan untuk mengungkapkan apa yang hendak ia bicarakan kepada lawan bicaranya, akibatnya ia berbicara dengan tersendat-sendat, mengulang-ulang ucapanya, dan mendadak berhenti untuk menyelesaikan apa yang hendak ia ucapkan. Hasil dari penelitian ini yaitu bentuk bahasa yang rentan atau paling sering terjadi terhadap anak yang mengalami gangguan kelancaran berbicara (gagap) adalah pengulangan kata, penjedaan, perpanjangan, penjedaan, dan menahan bunyi tunggal. Pada Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan rekaman audio melalui handphone peneliti. Dalam penelitian ini, peneliti mengamati sebanyak tiga orang anak yang mengalami gangguan kelancaran berbicara (gagap) dengan menggunakan inisial dari nama anak tersebut, yakni RS, MR, dan AS. Pengamatan ini dilakukan oleh peneliti pada saat anak sedang berbicara dengan teman-temannya baik pada saat jam pelajaran maupun saat sedang istirahat dengan terlebih dahulu mendapat izin dari guru bidang studi dan persetujuan kepala sekolah. MR memiliki bentuk bahasa pengulangan sebanyak 29 kali, perpanjangan 16 kali, penyisipan 9 kali, penjedaan 17 kali, dan menahan bunyi tunggal 9 kali. RS memiliki bentuk bahasa pengulangan 25 kali, perpanjangan 12 kali, penyisipan 9 kali, penjedaan 14 kali, dan menahan bunyi tunggal 9 kali. AS memiliki bentuk bahasa pengulangan sebanyak 19 kali, perpanjangan 8 kali, penyisipan 8 kali, penjedaan 6 kali, dan menahan bunyi tunggal 11 kali. Hasil pengamatan menunjukkan dari tiga orang anak yang mengalami gangguan kelancaran berbicara (gagap), MR dinyatakan sebagai anak gagap yang mengalami kegagapan paling serius dimana bentuk pengulangan kata yang dilakukannya sebanyak 29 kali. Dengan demikian hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa bentuk bahasa anak yang mengalami gangguan kelancaran berbicara (gagap) termasuk bentuk bahasa pengulangan (repetisi). Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti ketiga anak yang diamati yang mengalami gangguan kelancaran berbicara (gagap) ini termasuk kedalam jenis anak gagap primary stuttering dan gagap sementara yang masih dapat di sembuhkan seiring dengan bertambah dewasanya anak tersebut karena ketiga anak yang diamati ini masih dalam masa perkembangan, maka penyakit gagap tersebut masih dapat disembuhkan. Akan tetapi, disisi lain juga perlu dilakukan terapi wicara jika kondisi tersebut masih terus berlangsung hingga anak dewasa.
Penelitian yang diteliti oleh Asri Darmayanti Saragih (2018), fokus penelitiannya pada siswa SD. Asri melakukan pengamatan terhadap tiga siswa yang mengalami gangguan kelancaran berbicara (gagap). Ternyata dari hasil pengamatan gangguan yang dialami setiap siswa yang diamati tidak sama persis, ada yang gagap ringan sampai ada yang paling serius mengalami kegagapan. Kegagapan pada anak memang sering ditemui, tidak sedikit anak-anak yang mengalami gangguan gagap tersebut. Anak yang mengalami kegagapan akan sulit dalam berbicara dengan lancar.  Gagap dapat disebabkan karena adanya gangguan pada otak, saraf, atau otot yang terlibat dalam kemampuan berbicara. Jika dibiarkan kondi    si gagap dapat memburuk, serta berdampak pada hilangnya kepercayaan diri dan mengganggu hubungan sosial. Namun seiringnya waktu berlalu kegagapan yang dialami oleh anak-anak bisa sembuh dengan bertambahnya dewasa anak tersebut. Terapi bicara dapat digunakan untuk mengobati gagap, terapi ini berfokus pada mengurangi frekuensi munculnya gagap dengan berbicara lebih perlahan, mengatur pernapasan saat berbicara, dan memahami kapan gagap akan muncul. Terapi ini juga bisa digunakan untuk menghilangkan kegelisahan saat berkomunikasi.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Anita Aggarini (2017) dengan membahas analisis gangguan gagap. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang remaja. Tujuan dari penelitian ini Pertama, untuk menggambarkan perilaku subjek penelitian yang menderita gagap. Kedua, untuk mengetahui penyebab terjadinya gagap pada subjek penelitian. Hasil dari penelitian ini yaitu Anto yang berusia 18 tahun tumbuh sebagai laki-laki dengan kondisi fisik normal seperti masyarakat pada umumnya. Pada awalnya Ia tidak mengalami gangguan berbicara, gangguan gagap mulai dialami Anto saat Ia berusia enam tahun. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan teknik wawancara. Wawancara dilakukan dengan ibu kandung Anto. Penyebab awal munculnya gangguan berbicara gagap pada Anto ini karena adanya benturan. Selain itu, seringnya anto mendapatkan bentakan saat berusaha berkomunikasi juga menjadikan ia takut berbicara sehingga kegagapannya tidak dapat diperbaiki. Jadi, kegagapan yang dialami Anto ini terjadi secara terus menerus hingga sekarang. Selain itu, bentakan yang diterima Anto dari orang-orang di sekitarnya menyebabkan Anto mengalami tekanan mental hingga Ia merasa takut untuk berbicara. Hal ini menyebabkan adanya tekanan pada dirinya hingga ia mengalami kebingungan dan mengulang ucapan-ucapan yang dikeluarkannya. Kegagapan yang dialami Anto ini seharusnya mendapatkan perhatian khusus berupa terapi atau pun konsultasi dengan para ahli. Namun, kurangnya pemahaman orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar menyebabkan Anto tidak memperoleh pengobatan yang berhubungan dengan gangguan berbicara gagap yang dialaminya. Jika saja Anto memperoleh penanganan yang tepat, tentu Ia tidak akan mengalami kegagapan ini hingga dewasa. Jadi, untuk mengatasi masalah ini, perlu dilakukan berbagai terapi yang berhubungan dengan masalah gangguan berbicara gagap tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Anita Anggraini (2017) tidak berbeda dengan penelitian sebelumnya. Hanya saja jenjang umur objek penelitian yang berbeda. pada penelitian ini umur objek penelitian 18 tahun dikategorikan sebagai remaja. Peneliti menelusuri ternyata remaja tersebut mengalami kegagapan sejak usia 6 tahun disebabkan oleh adanya benturan, selain ini remaja ini sering mendapatkan bentakan saat berusaha berkomunikasi juga menjadikan ia takut berbicara sehingga kegagapannya tidak dapat diperbaiki. Sehingga remaja tersebut merasa takut untuk berbicara. Kegagapan yang dialaminya menjadi terus-menerus seiringnya waktu berlalu dikarenakan kurangnya perhatian khusus dari orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar. Dalam kasus ini sangat berhubungan erat dengan penelitian yang sebelumnya. Dimana, jika anak kecil seusia SD khusunya mengalami gangguan kegagapan tidak mendapatkan perhatian khusus untuk diterapi atau diobati dengan cara lain maka akan menjadi kegagapan yang berkelanjutan hingga dewasa mungkin bahkan hingga mereka tua nanti. Maka sebaiknya, jika kita mengalami kegagapan atau orang yang ada disekitar kita mengalani kegagapan kita harus berbuat sesuatu hal yang bisa memberhentikan kegagapan tersebut agar tidak menjadi keterusan, karena pada dasarnya kegagapan bisa diobati dengan beberapa cara yang sudah dipaparkan sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Anggaraini, Anita. (2017). Analisis Gangguan Gagap. Diakses pada Oktober 4, 2019, dari https://www.academia.edu/34024686/ANALISIS_GANGGUAN_GAGAP_Oleh_Anita_Anggraini_NIM_14016028
Nujaya, Hamdani Kamal. (2013). Analisis Gangguang Berbcara (Gagap) Pada M.H.R: Suatu Kajian Psikolinguistik. Diakses Oktober 5, 2019, dari https://www.academia.edu/27606714/ANALISIS_GANGGUAN_BERBICARA.
Saragih, Asri Damayanti. 2018. Analisis Bahasa Anak Yang Mengalami Gangguan Kelancaran Berbicara  (Gagap) [Skripsi]. Medan (ID) : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara http://repository.umsu.ac.id/bitstream/123456789/1631/1/Analisis%20Bahasa%20Anak%20Yang%20Mengalami%20Gangguan%20Kelancaran%20Berbicara%20%28GAGAP%29.pdf
Prayascitta, dkk. (2013). Produksi Kalimat Pada Penyandang Gagap. Diakses Oktober 4, 2019, dari http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikel297ED346464BEBFBC33CF61ED021E2AD.pdf


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ARTIKEL 6

Strategi Pembelajaran Keterampilan Berbicara Strategi pembelajaran adalah rencana kegiatan pembelajaran yang memuat penggunaan metode dan teknik pembelajaran yang memanfaaatkan berbagai sumber daya dan kekuatan yang tersedia termasuk menggunakan media pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara eektif dan efisien. 1.      Strategi pembelajaran KSUPP (P) KSUPP (P) adalah singkatan dari ksahkan, siapkan, ulangi, pakai, pamerkan, dan pekerjaan rumah yang ditaruh dalam kurung karena bersifat fakultatif bersifat pilihan. 2.      Strategi kuantum Strategi pembelajaran kuantum diterapkan melalui metode diskusi dan tanyajawab dengan teknik koreksi sesam teman. 3.      Strategi pembelajaran kooperatif berbantuan objek langsung Prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu (1) penjelasan materi; (2) belajar dalam kelompok; (3) penilaian; (4...

ARTIKEL 11

MENULIS             Menulis adalah kegiatan penampaian pesan (gagasan, perasaan atau informasi) secara tertulis kepada pihak lain. Dalam kegiatan berbahasa menulis melibatkan empat unsur, yaitu sebagai pesan penerima pesan. Kegiatan menulis sebagai sebuah prilaku berbahasa memiliki fungsi dan tujuan, personal, internasional, informatif, instrumentel, heruritik, dan estetis.             Sebagai salah satu aspek dari keterampilan berbahasa, menulis atau mengarang merupakan kegiatan yangkompleks. Kompleksitas menulis mengarang merupakan kegiatan yang kompleks. Fungsi dan tujuan menulis : 1. Fungsi personal, yaitu fungsi mengekspresikan pikiran, sikap atau perasaan pelakunya, yang diungkapkan melalui misalnya surat atau buku harian. 2. Fungsi instrumental, yaitu mempengaruhi sikap dan pnedapat orang lain. 3. Fungsi interaksional, yaitu menjalin hubungan sosial. 4. ...

ARTIKEL 1

LISNAWATI (A1D117025) Senin, 10 September 2018 Materi 2 KONDISI PENDIDIKAN INDONESIA Pendidikan merupakan tiang pancang kebudayaan dan pondasi utama untuk membangun peradaban bangsa. Kesadaran akan arti penting pendidikan akan menentukan kualitas kesejahteraan lahir dan batin dan masa depan warganya. Oleh karena itu substansi pendidikan, materi pengajaran dan metologi pembelajaran, serta manajemen pendidikan yang akuntabel susah seharusnya menjadi perhatian bagi para penyelenggara negara. Terbukti bahwa penyelenggara negara yang berhasil mencapai tingkat kemajuan kebudayaan dan teknologi tenggi mesti disangga oleh kualitas pendidikan yang sangat kokoh. Namun eksitensi pendidikan yang ada di Indonesia pada soal ini masih menjadi permasalahan yang belum mendapatkan pendidikan yang sebagaimana mestinya dan juga sama sekalipun belum pernah mencicipi bangku sama sekali contoh kecil saja anak yang terlantar hal ini sangat memprihatinkan. Sebenarnya mereka juga mempunyai ha...